Cerita Siang Bolong Bertemu Hantu Berpayung Hitam di Simpang Dago

| |

“Sewaktu aku masih kecil, ibuku sering bilang bahwa mahluk halus tidak hanya keluar atau menampakan diri pada malam hari saja, bisa juga keluar siang hari. Aku tidak percaya karena mungkin hanya alasan ibuku agar aku tidak main di luar rumah di siang hari saat waktu tidur siang. Tapi sekarang saat aku jauh dari Ibuku, ucapan ibuku itu terbukti saat aku mengalami perisiwa aneh.  Aku kost di Sukajadi, dan kuliah di UNPAD Jatinangor. Peristiwa yang kualami ini berawal dari perjalanan pulang dari kampus menuju tempatkost ku” tutur Lia mengawali ceritanya.



“Pas hari Jum’at siang, sepulang kuliah aku berniat pulang. Aku menunggu angkot Cicaheum Ciroyom tepat di depan kampus UNPAD Dipatiukur. Karena hari Jum'at, angkot yang beroperasi sangatlah sedikit. Dengan penuh kesabaran aku menunggu angkot yang lewat  meskipun di bawah terik matahari sangat menyengat siang itu . Sekitar setengah jam aku menunggu, akhirnya datang juga sebuah angkot yang berpenumpang 3 orang tanpa kernet. Karena kosong, aku mendapatkan tempat duduk tepat dibelakan pak supir, sehingga pandanganku langsung menghadap pintu masuk angkot.”

“Mungkin karena baru mendapatkan empat penumpang, sang supir menjalankan angkotnya perlahan. Dalam perjalanan sebelum lampu merah Dago, aku melihat seorang perempuan berdiri di sisi jalan, mencoba mencegat angkot yang kutumpangi. Karena angkot berjalan lambat aku sempat memperhatikan perempuan itu. Perempuan itu mengenakan rok terusan berwarna hitam dengan bunga-bunga warna kuning, rambut ikal terurai melewati bahu, dengan membawa payung hitam. Aku tertawa sendiri melihat penampilan wanita itu, siang hari bolong panas begini memakai pakaian yang di dominasi warna hitam”.

“Aku merasa heran, angkot yang kutumpangi ternyata tidak berhenti tepat di mana perempuan itu berdiri menghentikan angkot ini. Sang supir malah memberhentikan tiga meter melewati  perempuan itu, tepat di depan tiga orang laki-laki yang juga menghentikan angkotku. ‘Ah mungkin milih penumpang yang banyak kali’ pikirku. Tapi aneh juga rasanya, hanya tiga meter dari angkot, perempuan itu tidak bergeming sedikitpun mendekati angkot yang kutumpangi.  Aku hanya berguman ‘sombong sekali perempuan itu, nggak mau capek dikit.’ Akhirnya angkot pun pergi meninggalkan perempuan itu.”

Setelah melewati Simpang Dago, dekat jalan Sumur Bandung angkot berhenti lagi karena ada penumpang seorang ibu dan anak kecil. Tak jauh dari tempat ibu dan anak kecil itu berdiri, ternyata berdiri seorang perempuan, dan ‘ ya ampun, perempuan itu kan perempuan yang tadi’ pikirku heran. Aku bisa pastikan bahwa perempuan itu adalah perempuan yang kulihat sebelum lampu merah Dago, Baju, Rambut dan Payung yang dia bawa sama persis."

“Aku mencoba untuk meyakinkan pandanganku dengan membuka mata dengan lebar –lebar, ‘masa sih, perempuan yang tadi?. Ah ini hanya kebetulan saja’ pikirku.  ‘ Tapi bagaimana bisa, sama muka, sama pakaian yang dia pakai?’.  Dalam angkot timbul pertanyaan-pertanyaan aneh yang menyelinap dalam benakku. Akhirnya aku menyimpulkan mungkin hanya halusinasi saja, karena udara panas dan aku sendiri sudah lelah. Akhirnya angkot yang kutumpangi kembali meneruskan perjalanan. Dan seperti pertama kulihat, perempuan itu hanya berdiri saja tidak bergeming sedikitpun untuk berusaha untuk menaiki angkot yang kutumpangi”.

“Tepat di di pertigaan Jalan Siliwangi, di belokan ke ITB tidak jauh dari tempat angkot Cicaheum-Ledeng ngetem, teriakan ‘Kiriii..!!!!!’ dari salah satu penumpang membuyarkan pikiranku, saat itu juga aku memberikan jalan kepada penumpang yang akan turun. Seperti biasanya aku selalu melihat ke arah luar angkot. Tapi 'ya ampun’ disisi jalan dekat pagar kawat berduri, tepat di depan pintu menghadap langsung ke arahku, berdiri seorang perempuan , dan perempuan itu adalah perempuan yang kulihat tadi, baju, rambut dan payung sama persis, karena berhadap-hadapan kurang lebih 4 meter, aku melihat jelas wajah perempuan itu dengan jelas. Perempuan muda itu bermata sipit, hidungnya bulat, tidak mancung, mukanya pucat pasi, dan dia tersenyum menatap kearahku. Beberapa detik aku terkesima tak bergerak dan bulu kuduku merinding disertai keringat dingin yang mulai mengucur. Beberapa detik setelah itu terasa olehku ada tangan yang menepuk-nepuk bahuku, rupanya ibu yang duduk disebelahku . ‘kenapa Neng ? Kelihatanya nggak enak badan'ya ?‘ tanya ibu itu. Aku terdiam sesaat ‘ehhh, nggak Bu, perempuan itu’  jawabku sambil menunjuk kearah perempuan itu.Tapi, wanita itu menghilang “. Cerita Lia

0 komentar:

Posting Komentar